|
Penangkaran Rusa Timor Leste Tak Layak |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Solichan Arif
|
|
Minggu, 29 Juni 2008 |
BLITAR - Penangkaran rusa di petak RPH Perhutani Sumberasri Desa Jatilengger, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, tidak memenuhi syarat sebagaimana lokasi pengembangbiakan hewan langka. Sedikitnya 96 ekor rusa jenis Timorenses (TimorLeste) dipelihara tanpa menggunakan prosedur khusus pemeliharaan hewan langka.
Menurut keterangan Yuliati, salah satu petugas penangkaran, tidak ada tim khusus dokter hewan yang bertugas memantau sekaligus memeriksa kesehatan hewan secara rutin. Jika ada rusa yang sakit, solusi penyembuhan melalui cara-cara alternatif. "Dan karena tidak mempunyai dokter hewan khusus, kita seringkali berspekulasi menggunakan obat tradisional dalam mengobati rusa yang sakit. Dan untungnya sampai saat ini belum terjadi apa-apa pada rusa dari timor leste ini, "ujarnya, Minggu (29/6/2008). Seperti diketahui, penangkaran rusa ini dibuat Perhutani bekerja sama dengan Pemkab Blitar mulai tahun 1999-2000. Lokasi ini berada di hutan Maliran yang merupakan salah satu wilayah hutan heterogen di Kabupaten Blitar yang belum tereksplorasi. Hewan-hewan langka ini hidup secara berkelompok dalam lingkaran krangkeng kawat berduri setinggi 1,5 meter. Rusa-rusa ini berada di sela-sela pohon mahoni. Karena usia kawat yang sudah uzur ditambah sering ditabrak rusa yang berkelahi, tidak sedikit krangkeng yang terkoyak berlobang-lobang. Rusa dewasa jantan yang hidup disana sebanyak 32 ekor. Sedangkan rusa betina induk sebanyak 45 ekor. Untuk rusa kanak-kanak jantan 10 ekor dan betina 9 ekor. Selain berkelahi satu sama lain yang bisa mengakibatkan stress, rusa-rusa ini sering terserang kedinginan, terutama pada malam hari. Menurut Yuliati tidak ada tempat khusus melindungi rusa dari hawa dingin malam hari. Akibat dingin ini banyak rusa yang kembung hingga kejang. Selain itu musuh hewan berkulit totol-totol ini adalah keramaian. Akibat pagelaran rekor MURI lomba melukis anak TK di lokasi penangkaran 2007 lalu, dua ekor rusa tewas. Yuliati mengakui jika lokasi pemeliharaan rusa yang dibuat Perhutani bersama Pemkab Blitar sejak era mantan Bupati Imam Muhadi ini kurang representatif. Dia mengatakan lokasi ini belum pantas disebut penangkaran, tapi lebih pas disebut ruang pemeliharaan biasa. "Karena untuk memelihara rusa sebanyak itu kami hanya bertiga saja. Seharusnya kalau konsep penangkaran tentunya ada tim dokter dan sejenisnya dan mendapat pantauan secara rutin," terangnya. Ribut, petugas penangkaran lainnya menambahkan, untuk makanan, rusa-rusa ini mendapat jatah makan sehari dua kali. Menunya berupa ketela pohon dan rumput gajah. Pada musim kemarau ini stok makanan rusa masih tercukupi. "Untuk makan dua kali sehari. Untuk totalnya kita tidak bisa menghitung. Kalau telat sebentar saja rusa-rusa ini sudah melengking, "ujarnya. Terkait keberadaan penangkaran rusa ini menjadi lokasi wisata, Ribut berpendapat jika pemkab Blitar kurang berpromosi sekaligus membantu mengembangkan lokasi. Padahal dalam setiap tahun pendapatan dari retribusi penjualan karcis masuk lokasi mencapai sekira Rp25 juta. "Kalau dipromosikan dan dikembangkan tentu pendapatan ini bisa meningkat lebih tinggi lagi," pungkasnya. (Solichan Arif/Sindo/mbs) |
© 2010 Website Perum Perhutani
Sukseskan Perhutani Hijau 2010
|
 |
Jumlah Pengunjung
| Sekarang | 90 | | Kemarin | 262 | | Minggu | 1415 | | Bulan | 8634 | | Semua | 203651 |
Pengunjung Online
Saat ini ada 7 tamu online
Arsip Berita
-
January, , 2010,
-
December, , 2009,
-
November, , 2009,
-
October, , 2009,
-
September, , 2009,
-
August, , 2009,
-
July, , 2009,
-
June, , 2009,
-
May, , 2009,
-
April, , 2009,
|